JAKARTA: Indonesia menjadi negara dengan tingkat penyebaran virus Stuxnet nomor dua tertinggi setelah Iran, sehingga kalangan bisnis dan industri diminta mewaspadai ancaman cybercrime sebagai dampak dari serangan ini.
Yudhi Kukuh, Technical Consultant PT Prosperita--penyedia solusi keamanan Eset di Indonesia--mengatakan lembaga-lembaga baik bisnis maupun pemerintahan yang menggunakan jaringan komputer dalam pekerjaannya merupakan target potensial virus canggih tersebut.
"Oleh karena itulah kami imbau agar sistem keamanan komputer perlu dijadikan bagian yang terintegrasi dalam pemahaman teknologi komputer. Cyber security pada era belakangan ini bukan lagi elemen yang terpisah, karena potensial untuk diabaikan," ujarnya hari ini.
Menurut data Eset, Indonesia termasuk dalam negara dengan tingkat infeksi Stuxnet tertinggi dengan angka persentase 17,4%. Hanya beda satu peringkat saja di bawah Iran yang ada di posisi pertama dengan persentase 52,2%. Di bawah Indonesia adalah India, Pakistan, Uzbekistan, Rusia dan negara lainnya.
Virus tersebut telah menyebar dan menimbulkan dampak pada jaringan komputer, terutama milik organisasi dan perusahaan di berbagai belahan dunia.
Virus Stuxnet tersebut memang secara spesifik dirancang untuk menghantam SCADA (supervisory control and data acquisition) yang menjalankan sistem kendali fasilitas di industri seperti pabrik dan pembangkit listrik, kemudian mencuri data rahasia dari sistem SCADA itu.
Stuxnet hadir secara sistematis memanfaatkan celah keamanan pada microsoft yang selama ini ada dan tanpa disadari kemudian menggandeng LNK exploit dalam menyebarkan diri. Stuxnet juga menyasar dan mengancam jaringan komputer perusahaan atau organisasi tertentu, karena tujuannya adalah masuk secara ilegal langsung ke tempat penyimpanan informasi rahasia, seperti informasi bisnis dan perdagangan.
Berikutnya adalah sasaran pada peranti lunak atau infrastruktur TI tertentu di dalam sistem komputer, yang bertujuan untuk mencuri data rahasia seperti data nasabah bank atau sistem SCADA.
Untuk mengantisipasi Stuxnet, tutur Yudhi, Eset telah mengembangkan teknologi ThreatSense dalam Eset Antivirus NOD32 dan Eset Smart Security yang telah mampu mengenali worm bernama Stuxnet tersebut sejak Juli 2010. Meski demikian, dia mengingatkan agar pengguna komputer memeriksa kembali antivirus sebelum jaringan komputer di perusahaan menjadi benar-benar tak berdaya.(er)
source: bisnis.com
Jumat, 01 Oktober 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar